December is Coming To The Seconds-End

Leave a comment

December.. the last month in the year of 2012..

Banyak hal yang terjadi di tahun ini yang wajib disyukuri :)

 

 

memory of 191212

Leave a comment

memory of 191212

Raib (3): Lost it!

Leave a comment

Day 3. Percetakan Negara to Bekasi.

Sholat shubuh. Packing. Mandi. Sholat Dhuha. Berangkat.

Berniat untuk jalan-jalan keliling Jakarta sampai sore, karena sepupuku baru akan berangkat dari Bogor sekitar jam 3. Perjalanan kereta dan mobil pasti akan lebih cepat perjalanan menggunakan kereta, pikirku. Setelah di pagi hari ku buka tablet untuk mencari informasi arah shelter menuju arah Kuningan.
Planning hari ini: Salemba – Kuningan – Istiqlal – Stasiun Senen – Bekasi

Naik busway arah Kampung Melayu. Untuk transit ke arah BNN. Ternyata, aku salah turun, aku turun di RS.Jatinegara Premiere. Akhirnya kutunggu lagi busway arah Ancol dan turun segera di Kp.Melayu. Menunggu kedatangan bus berikutnya di shelter 9 arah BNN. Berdesakan. Penuh. Kutaruh tas di depanku. Kutaruh pula hp di saku bajuku yang panjangnya sampai lutut. Tadinya kupikir ini untuk mempermudah melihat jam dan mengangkat telpon kalau keluargaku menghubungiku. Di belakangku ada seorang bapak-bapak yang terlihat sangat sibuk, batuk, menutupi dengan koran, dan sesekali menyentuh bagian pahaku. “GAK SOPAN!!”. Akhirnya, aku coba geser ke depan. Dan tetap saja kulihat bapak-bapak itu sibuk dengan menggerak-gerakkan tangan dan menutupi batuknya dengan koran.

Bus datang. Aku masuk ke dalam. Transit di BNN. Kuperiksa hp di dalam sakuku. WHAAATTT???!!! RAIBBBBBB!!!! High level panic!! God! Allahu Akbar! Bingung! Bengong! Linglung! Gemetar!

Akhirnya aku lanjutkan perjalanan ke arah Tebet BKPM. Turun dan keluar dari shelter. Bingung. Harus menghubungi siapa? Jakarta? Taksi menuju kantor kakakku atau ayahku? BLANK!

Akhirnya kuputuskan untuk naik shelter balik ke arah sebelumnya dengan rute yang berbeda. Sudah diluar kendali. Yang penting aku sampai pada stasiun kereta. Tebet BKPM – Cawang – Kp. Melayu – Stasiun Jatinegara. Aku beli tiket langsung menuju Bekasi (commuter line). Sambil menunggu kereta satu jam lagi, aku memberanikan diri untuk meminjam hp seorang ibu di sebelahku setelah mencari-cari wartel. Aku meminta tolong padanya untuk mengirimkan sms pada kakakku. Lalu, ibu itu menawariku untuk menelepon saja. Kutelepon kakakku. Menunggu kedatangannya di stasiun. Dan menangis.

Sampai di stasiun Bekasi, lanjut dengan ojeg ke Perumahan Irigasi Lama. Budeku besok shubuh akan datang dari ibadah hajinya. Sampai di rumah sepupuku karena rumah budeku pastinya akan kosong. Sepupuku tidak ada dirumah. Ia menjemput anaknya di sekolah. Menunggu di rumah tetangga. Bermain dengan cucunya. Sempat hilang kesedihan. Sepupuku datang, istirahat sejenak, menceritakan kehilangan, dan tanpa kabar ibuku ternyata langsung ke Bekasi setelah dikabari kakakku tentang hp ku.

Aku ditanya oleh ibuku. Dan sepupu-sepupu lainnya yang kemudian berkumpul di rumah budeku.

Istirahat saja, mungkin bisa melenyapkan kesedihan.

Raib (2) : Strolling around Jakarta

Leave a comment

Day 2..

Bangun pagi.
Sholat Shubuh.
Mandi.
Bikin sarapan pagi.

Hemm, aktivitas sendiri di kosan yang sepi. Akhirnya aku putuskan untuk jalan-jalan sendiri keluar kosan.

Pertama: Tujuan Shelter Busway Salemba UI
Pergi ke alfamart, beli sedikit perbekalan camilan. Naik angkot 04 ke arah shelter Salemba UI. Cukup bayar 2 ribu rupiah.

Kedua: Tujuan Shelter Busway Tegalan
Turun di shelter Matraman I, teryata seharusnya turun di Tegalan. Jalan kaki sekitar 200 meter, cukup panas. Akhirnya sampai di Gramedia Matraman. Alhamdulillah. Keliling. Belanja. Sholat Dzuhur. Cari makan siang. Tadinya, mau jalan sekalian ke arah Kuningan. Tidak tahu arah, akhirnya hanya turun di shelter Slamet Riyadi. Walaupun kata kakakku, kalau kesasar tinggal panggil taksi atau telpon ayahku untuk minta dijemput. Aku putuskan untuk kembali ke kosan sebelum hujan.

Ketiga: Shelter Busway Salemba UI
Naik busway dari arah Ancol, turun di Salemba UI. Naik angkot 04 turun di jalan masuk menuju kosan. Alhamdulillah sudah sampai. Mandi. SHolat Ashar. Baca novel mba Helvy “Ketika Mas Gagah Pergi”. Tidur. Sholat Maghrib. Sholat Isya. Mencari makan malam. Finally, “Warung Kito”. Pulang ke kosan. Baca novel. Tidur.

Raib (1) : Bogor

Leave a comment

Day 1..

Goes to Bogor, 7.30 am.

Pagi kami berangkat ke Bogor menggunakan mobil dinas ayahku. Bulek ku masuk rumah sakit Hermina Bogor yang tepatnya ada di daerah Taman Yasmin. Yang tadinya kami akan berangkat menuju ke Jakarta, akhirnya kami putuskan untuk mampir ke rumah sakit dulu. Yah inilah perjuangan seorang wanita yang harus kehilangan anak dalam kandungan ketika masih berusia trimester awal. Keguguran itu menyakitkan, menyedihkan, dan mengecewakan. Qadarullah, Allah berkehendak lain akan nyawa makhlukNya. Operasi kuret pun telah usai, bulek ku masih berada di ruang isolasi operasi. Hanya beberapa saja yang boleh masuk, aku masuk dan melihatnya berada dalam kondisi lemah. Hemm.. Ibu.. Ibu.. Ibu.. Inilah jihad seorang ibu sesungguhnya dalam kehamilannya, ia mempertaruhkan dua nyawa, dan satu hal yang pasti ketaqwaan dan kepasrahan pada Illahi lah yang membawanya menjadi lebih mulia.

Hujan turun deras mengguyur kota Bogor. Kami yang tadinya akan melanjutkan perjalanan, sedikit terhambat. Akhirnya, ba’da ashar. Kami putuskan untuk pergi ke Jakarta tanpa Ibu. Sepanjang perjalanan, tidak hentinya kami diguyur nikmatNya Allah berupa air hujan. Sampai di daerah Rawasari, mendekati kosan kakakku, hujan mulai berhenti.

Bertiga, kami mencari tempat makan karena terlewat makan siang. Menemukan sebuah temapat makan di jalan percetakan negara, Mas Miskun. Kami menyantap makanan dengan nikmat.

Ayahku kemudian, mengantarkan kami tepat di depan kosan kakakku di Percetakan Negara. Menurunkan barang-barang sambil merencanakan apa yang akan dilakukan setelahnya. Istirahat sejenak, mandi, sholat maghrib dan bersiap menuju Atrium. Yup, pilihan antara Skyfall atau Breaking Down. Ternyata, Skyfall sudah penuh. Hanya tinggal Breaking Down pukul 21.15. What?! Baru kali ini aku masih ada di luar dan nonton jam segini.

Pulang dari Atrium jam 11.30. MasyaAllah.

Perahu Kertas – Maudy Ayunda

Leave a comment

Perahu kertasku kan melaju
membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila,
tapi ini adanya

Perahu kertas mengingatkanku
betapa ajaibnya hidup ini
Mencari-cari tambatan hati,
kau sahabatku sendiri
Hidupkan lagi mimpi-mimpi
cinta-cinta… cita-cita …
cinta-cinta…
yang lama ku pendam sendiri
berdua ku bisa percaya

Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu
Tiada lagi yang mampu berdiri
halangi rasaku, cintaku padamu

Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu

Oh bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu..

Aktivis Dakwah Jangan Sampai Melupakan Keluarga

Leave a comment

Banggakah dirimu saat dikatakan padamu sebagai seoran aktivis dakwah?

Bagiku, gelar atau titel seperti itu bukanlah sebuah kebanggaan. Melainkan suatu tanggung jawab dimana Allah telah memilih dan menitipkan bumi ini dan seisinya pada manusia terpilih untuk mengelolanya dengan baik, menjadi khalifah terbaik.

Aktivis dakwah jangan hanya bertengger pada masalah-masalah umat dimana dirinya berada sekarang. Bahkan terkadang lupa dengan orang terdekat yang selalu memberikannya ridho untuk berdakwah di luar. Keluarga. Demi amanah dan perubahan dunia yang masif terkdang mereka lupa untuk pulang kembali ke pelukan keluarga. Sejak kecil, di TPA kita seringkali disuapi hadits:

“Ridho Allah terletak pada ridho orang tua dan murka Allah terletak pada murka orang tua.” (HR At Tirmidzi)

Lupakah kita dengan hadits itu?

Jangan sampai terlupa kawan. Ingat siapa yang mengajari kita huruf hijaiyah sejak kecil, yang membantu kita mengaji, yang mengajari kita wudlu dan shalat, siapa yang membangunkan kita untuk makan sahur, yang membangunkan kita untuk melaksanakan shalat malam. Semua yang mengajarkan adalah orangtua kita, merekalah madrasah pertama kita. Mereka guru pertama kita.

Jangan pernah lupakan mereka. Birrul Walidain. Berbaktilah pada orangtuamu. Lihatlah diri kita yang sudah pandai mengaji, hafal beberapa juz Al Qur’an, hafal hadits, sedangkan orangtua kita ilmunya tidak pernah bertambah. Maka, apakah aktivis dakwah pantas disandangkan pada dirimu? Kau berhasil menyolehkan orang banyak, tapi kau gagal menyolehkan keluargamu. Na’udzubillahimindzalik.

Berbagi waktu untuk dakwah dan keluarga menjadi dilematis kebanyakan aktivis. Usahakan. Perbaiki kembali aktivitasmu. Orangtuamu menunggu janjimu untuk berkumpul dengan mereka meski hanya satu jam, tidak lebih. Namun, terkadang dengan segudang amanah kita lupa dengan janji itu. Betapa kecewanya mereka. Tidak salah jika memang harus mengutamakan amanah, namun luangkanlah waktu istirahatmu untuk memberikan senyuman di hadapan orangtuamu. Bukankah aktivitas kita akan semakin berkah.

Jangan pernah kecewakan kepercayaan yang sudah dibangun oleh orangtua kita. Mereka yang sudah renta menanti kehadiranmu pulang, mencium telapak tangan, mendoakannya, dan mengajarinya ilmu agama lebih untuk kehidupan di masa tua yang tenang.

Menjadi teladan memang baik untuk berdakwah pada orang banyak, namun akan lebih baik lagi jika kau menjadi teladan untuk keluargamu. Sehingga mereka bisa berkumpul di taman Firdaus kelak.

Jika membutuhkan cerita, aku akan menceritakan kisahku:

Weekend adalah waktu keluargaku berkumpul. Maklum, karena kami tinggal terpisah, jadi Sabtu-Ahad biasanya kami gunakan untuk berkumpul. Sayangnya, agenda dakwah seringkali menggunakan waktu ini untuk membicarakan berbagai qodhoya dakwah. Subhanallah. Sempat saya berdebat dengan keluarga mengenai masalah ini. Yang saya lakukan hanya memberikan keyakinan pada azzam yang sudah saya bulatkan di dalam hati. Ya, “dengan menunaikan amanah Allah ini, maka aku akan mendapat berkahNya, memang akan banyak rintangan, termasuk keluarga, namun inilah jalan yang kutempuh”. Aku selalu berpikiran seperti itu setiap kali aku harus berdebat dengan keluarga.

Dan saat ini saya menyadari bahwa amanah Allah itu bukan hanya suatu posisi jabatan dalam organisasi, tapi sebagai anak pula. Ternyata ladang pahala terbesar itu ada pula pada keluarga kita. Tanpa restu mereka, mungkin aku juga tidak mudah menjadi aktivis. Kini, aku menyeimbangkan aktivitasku. Dan Alhamdulillah, hasil semakin terlihat. Orangtuaku yang dulunya hampir tidak setuju dengan menutup aurat, kini semuanya berubah.

Ibuku menjadi ibu yang shalihah, tidak pernah melewatkan shalat sunnahnya sekalipun, shaum sunnahnya, mulai memanjangkan kerudungnya, membaca buku-buku islami, dan terkadang mengingatkanku akan perilaku ku yang tidak sesuai.

Ayahku menjadi ayah yang terbaik. Tidak pernah lagi meninggalkan shalat wajib meskipun dalam perjalanan jauh. Ketika kami bepergian jarak jauh, kami selalu berhenti di masjid ketika adzan berkumandang, seterpencil mesjidnya pun akan kami cari. Beliau juga selalu datang ke masjid untuk shalat berjamaah. Dan kini mulai banyak mempelajari ilmu agama. Bahkan cita-citanya setelah pensiun adalah ingin belajar di pesantren.

Inilah bentuk dakwah dan hasil dakwah yang tidak pernah rugi. Karena cita-cita terbesarku adalah memasuki taman firdaus bersama orang-orang yang kucintai, salah satunya adalah keluargaku tercinta.

Demikianlah, keluarga kami benar-benar menjadi keluarga yang menentramkan hati. Mungkin inilah yang disebut dengan Baiti Jannati..

“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka …” (QS. Asy-Syuraa: 15)

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.