Fakultas yang notabene terkesan dengan fakultas ‘kaum hawa’ memberikan banyak sekali pembelajaran hidup bagi saya. Ya, kegagalan saya memasuki salah satu perguruan tinggi yang sudah saya idam-idamkan sejak SMP berakhir menjadi sebuah rasa syukur teramat banyak kepada Illahi Rabb.

Belajar di tempat yang sama sekali bukan menjadi pilihan hati, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Sugesti awal ‘this’s not my place’ yang meracuni alam bawah sadar saya, membuat saya agak kesulitan untuk beradaptasi dengan ilmu ini. Belajar hanya belajar untuk mendapatkan nilai, tidak pernah saya belajar untuk sebuah pemahaman. Tahun kedua, saya memaksakan diri untuk menghilangkan sugesti ini dengan menciptakan sesuatu ‘yang akan membuat saya betah’. Teman-teman, organisasi, buku-buku psikologi, kisah psikolog, peran alumnus psikologi, staff dosen yang luar biasa, dan lain-lain. Alhamdulillah, kerja keras tersebut berakhir indah.

Pengazaman diri untuk mendalami ilmu ini walaupun harus lebih keras dibandingkan yang memang sudah menjadi minat teman-teman lain berbuah kesyukuran. Semakin mendalami, saya lebih mengenal siapa saya, apa tujuan saya, apa yang harus saya lakukan, kepedulian dengan orang lain, mengenal orang lain lebih dalam, melihat sebuah fenomena dari sisi kausalitas yang berbeda, dan banyak hal lainnya. Intinya saya tahu bahwa ketika gagal, Allah sedang mengarahkan kita pada tempat yang terbaik untuk hambaNYA.

Hal yang membuat saya bahagia adalah, saya dapat bekerja di manapun dan untuk siapa pun. Saya bisa bekerja di rumah sakit sebagai psikolog kesehatan, neurolog, psikolog klinis, dll. Saya bisa bekerja di industri, menjadi trainer, konsultan, konselor, manajer HRD, marketing, riset perusahaan, dll. Saya bisa bekerja sebagai ibu rumah tangga yang baik, karena mengetahui bagaimana pola asuh yang baik untuk perkembangan anak, mengetahui perkembangan kehidupan keluarga, dll. Sebagai wirausaha, karena mengetahui riset market melalui psi.konsumen. Menjadi peneliti. Di sekolah, sebagai pengembang kurikum, pendidik, konsultan, konselor, dll. pekerja sosial. Dan banyak hal lainnya yang berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat. Waktu, tenaga, dan harta yang digunakan untuk sebuah kerja keras mendidik dan membina masyarakat adalah sebuah kebahagiaan bukan sebuah pengorbanan.

Allah lebih mengenal siapa hambaNYA, lebih mengetahui kebutuhan hambaNYA. Terpenting dari semua ini, di kampus inilah saya semakin mengenal siapa Rabb saya, lebih dekat denganNYA, bertemu dengan orang-orang luar biasa yang mencintaiNYA, dan memberikan kesempatan yang besar bagi saya untuk melakukan amalan-amalan sholeh, ya, berjuang bersama dengan orang-orang luar biasa. Alhamdulillah. Takdir ini telah digariskan, dan kedepannya saya harus kembali menysun rencana dengan penuh tawakkal. Yang saya tahu hari ini adalah Allah menempatkan saya di sini, karena Ia tahu bahwa karakter saya memang tepat untuk berada di wilayah ini dan Allah ingin saya melakukan proyek besarNYA di kampus ini.

Manusia memang hanya mampu berencana dan berihtiar semampunya, namun Allah Sang Mahakuasa memiliki rencana yang lebih indah dari apa yang manusia rencanakan.

Terima kasih Allah, saya mendapatkan banyak hal di kampus ini. Di sinilah saya terlahir, di tempat inilah yang akan menentukan ke mana saya melangkah ke depan, di kampus inilah saya lebih mencintaiMU..

Sebuah kontribusi telah dinanti, mari bekerja!!

“fa idza ‘azamta fatawakkal ‘alallahu..”