Dakwah ini mengajarkan kami..

Saat kami terlelah,
Saat aktivitas yang bergelombang di setiap jam berputar menjadikan kaki lemah ini terasa nyilu, namun di saat itu pula berlayangan dalam benak hati terdalam kami bahwa tak seberapanya pengorbanan yang kami berikan, bahkan tak layak dibandingkan sebagaimana rasul beserta sahabat dahulu yang bukan hanya terlelah bahkan terancam, tersakiti, tertindas dalam dakwahnya, namun semua itu ia hadapi bak teguh gunung yang menjulang perkasa. Adalah dakwah yang menginspirasi kami bahwa “biarlah kelelahan itu yang merasa kelelahan mengejar ngejar kami” sampai suatu hari allah takdirkan tempat terbaik yang dijanjikan. Dakwah ini mengajarkan kepada kami bahwa balasan kebaikan yang allah berikan berbanding lurus dengan kadar kelelahan yang dikerjakan, maka bukanlah kelelahan yang menjadi ketakutan kami namun saat niatan yang tidak berorientasikan allah membersamai langkah ini mendominasi di setiap detik irama nadanya.

Dakwah ini mengajarkan kami..
Saat kami diuji ketahanan,
Saat dunia menawarkan keelokan sutra bertabur mutiara indah bermandikan kesilauan, saat satu persatu aktivis dakwah perlahan mundur karena kecewa atau tidak bisa menerima, atau perlahan idealisme itu berhamburan, berlayangan tak karuan hingga tak bisa membedakan apakah ini baik, syubhat atau tidak, seolah telah melupakan bahwa berkumpulnya kita di sini karena allah yang menjadikan dakwah ini sebaik baik aktifitas. “tertahan menjadi terasing, tetap disini menjadi diprasangkai, menjaga idealisme dengan hijab dikata idealis dan bukan zamannya”. Tapi kami berazzam selama matahari masih terbit disisi timur dunia, dan rembulan masih bersinar terang, kami telah berikrar bahwa pertemuan dan perpisahan adalah semua oleh karena allah, membenci dan mencintai adalah semua oleh karena allah, asal kami tetap di sini bertahan dengan amal amal yang diridhoinya.

Dakwah ini mengajarkan kami..
Saat kami diperintah,
Saat seruan itu hampir di setiap harinya mengisi dan mendominasi di setiap inbox pesan di hp kami, ternyata dakwah ini mengajarkan kami, bahwa di sana ada pahala, disana ada kerja sama, di sana ada barokahnya bekerja, kami yakini bahwa ini bukan dalam konteks “sapi perah” karena kami lihat di sana ada sang pengirim pesan sedang juga membersamainya.

Dakwah ini mengajarkan kami..
Saat hati bergejolak,
Saat sang waktu tidak cukup bijak mengejar terus menerus usia yang tak terasa melebihi angka dewasa, ada sebenih titik kehampaan karena berjalan seorang, dibalik sujud kami berkata “robb.. Diamkan hati ini, jangan biarkan ia mengambil menguras sebagian besar waktu kami, amal kami, ukhuwah kami baik ukhuwah kawan maupun jama’ah”, suatu perasaan yang sulit ditafsir tapi teramat mudah ditebak. Sekali lagi dakwah mengajarkan kami untuk bersabar dalam penantian.

Dakwah ini mengajarkan kami..
Saat cinta datang menghampiri,
Saat perasaan itu berlayangan dan bergantungan dikolong langit, saat menyeksamai sekumpulan mereka yang tidak lagi menjaga pandangan, berdalih “saya tidak menatap orangnya, tapi hanya fotonya, boleh kan? ” sekali lagi dakwah mengajarkan kami untuk selalu mengedepankan husnudzon, dakwah ini mengajarkan kami bahwa ikrar kami adalah “cinta ini hanya untuk Allah”, “cinta ini untuk Rasul Allah”, “cinta ini untuk orang-orang yang selalu memuji Allah dalam syair cintanya”, “cinta ini untuk mereka yang cinta pada Allah”. Meski tak dipungkiri kitalah manusia itu dengan aksesoris kelemahan dan kealpaan, menengadah berharap cinta itu bermuara kepada orang yang diridhoi diin dan akhlaqnya.. Siapapun mereka…

Dakwah ini mengajarkan kami..
Saat berumah tangga,
Bahwa kapal yang berlayar adalah kapal yang berani berhadap ombak, berani berhadap gelombang, berani berhadap karang, berani berhadap badai menghantam membersamai luas dan dalamnya lautan. Berharap suatu hari nanti kami bisa mendarat dipesisir syurga bersama dalam perjuangan menghadapi kenyataan hidup yang sesungguhnya.

Dakwah ini mengajarkan kami..
Saat menghadapi masalah,
Saat satu persatu ujian demi ujian itu hinggap membersamai kenyataan hidup berbumbu tangis beraroma kesedihan yang entah oleh sebab sukar ataupun senang. Kami diajarkan oleh dakwah, bahwa yang menjadi permasalahan bukan terletak pada apa itu masalah, tapi sikap dalam menghadapi permasalahan itulah sesungguhnya yang sering menjadi masalah, selama Allah yang menjadi tujuan, Allah yang menjadi asbab, Allah yang menjadi tempat cucuran perasaan, maka selama itu pula semua masalah akan menjadi barokah dan akan menempa kami untuk semakin berani mencari solusi

Dakwah ini mengajarkan kami..
Saat tua nanti, saat kami tidak pernah menyesal telah ada dan akan selalu ada bersama dan membersamai dakwah yang telah mengajarkan kami untuk menyeksamainya hingga ajal menjemput. Nahnu duat qobla kullai syai’.

”orang yang gagal sebenarnya bukan orang yang tidak bisa, tapi kebanyakan orang yang gagal adalah mereka yang tidak bisa menyalakan api kecil dalam dadanya, dan api kecil itu bernama semangat”

Oleh karena itu wahai diri, semangatlah mengejar impian dakwah kita, buang jauh prasangka negatif, singkirkan keragu raguan, enyahkan syetan dari dalam dada kita, usir ia dari setiap aliran nadi darah kita dengan selalu mengingat-nya, sehingga suatu hari nanti kita bisa bertemu dengan allah dalam keadaan allah ridho kepada kita. Wallahu’alam bis showab

(Oleh Farrosih )