Huft!!

Mupeng!!

Wisuda!!

S.Psi!!

Allah menakdirkanku bertemu dengan dirinya, Allah menuntunku untuk mampu berkembang dengan sendirinya. Mendapatkan dosen pembimbing yang sibuknya luar biasa, ditambah grand masternya kajian ilmu yang kuambil, ditambah lagi beliau adalah bapaknya pembuatan alat ukur, membuatku memperbanyak rasa syukur dan sabar. Teman-teman yang sudah lulu, menjadi pemicu tersendiri bahwa aku harus bisa, aku pasti bisa. Aku tidak pernah menyesal Allah masih mengkaruniaiku amanah, meskipun amanah ini bukanlah amanah yang terlihat oleh banyak orang, tapi amanah ini Allah yang langsung saksikan, beserta malaikat dan Rasul-Nya.

Keikhlasan demi keikhlasan, ketulusan demi ketulusan, waktu demi waktu, pikiran demi pikiran, tangisan demi tangisan, kemarahan demi kemarahan, kelelahan demi kelelahan, lillah demi lillah.. semuanya aku rasakan. Aku harus membagi keduanya sama rata dengan tugas akhirku. Bahkan aku selalu mendahulukan amanahku untuk kepentingan ummat dibandingkan mengerjakan tugas akhirku. Teringat kisah para sahabat yang tidak gentar meninggalkan duniawinya hanya untuk mendapatkan ridha Allah, betapa kuat keimanan mereka. Itulah yang ingin kukejar, mungkin tingkat keimananku tidak bisa, bukan, mungkin bahkan tidak pernah bisa sebanding dengan mereka, apalagi baginda Rasul. Aku manusia biasa yang hanya ingin mendapatkan ridho dan rahmat-Nya untuk memasukkan diriku ke dalam syurga-Nya. Aku tidak memiliki apapun yang bisa kubanggakan dihadapan Illahi ketika saatnya amalan ini dihisab. Aku iri dengan para sahabat, syahid/ah yang berjihad di medan perang, yang kehilangan anggota tubuhnya untuk menegakkan asma’ Allah. Tapi aku, aku tidak memiliki apa-apa. Amanah ringan pun kadang aku lalai. Duniawi pun masih erat dalam hati. Rasa malu dan malas masih menjadi penyakit terbesar. Apa yang bisa aku lakukan? Hanya ini yang mampu aku lakukan, mejadi khairu ummah terbaik dengan tidak mendzalimi amanah yang Allah berikan. Mendahulukan perintahNya, agar aku mendapatkan keridhoan di sisi-Nya.

Allah tidak pernah merasa rugi dengan pembangkangan dan kekafiran kita terhadap perintah-Nya. Kitalah yang akan merugi, karena Allah tidak lagi memperhatikan kita, bantuan dari mana lagi yang akan kita peroleh?? Nau’dzubillahi mindzalik.

”Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS Thahaa 124).

Ijinkanlah diri ini tetap menghamba pada-Mu, istiqomahkanlah keimanan ini tetap di jalanMu sampai pada akhirnya hari itu tiba, hari dimana pintu taubat tidak lagi Engkau buka. Ya Allah, ijinkan aku untuk menyelesaikan keduanya dengan baik. Jalan yang kulalui adalah takdir dariMu, semua sudah tertulis dalam Lauh Mahfudz. Terima kasih Allah, memberikan hidayah untuk memasukkanku ke dalam lingkungan yang Engkau cintai dan mereka mencintaiMu. Aku bahagia walaupun amanah ini terasa bera, tapi bersama mereka terdapat kedamaian dan rasa cinta.

Kelulusan harus aku selesaikan dengan baik, amanah harus kutunaikan dengan tuntas. Bantu aku ya Allah, La Haula Wala Quwwata Illa Billah.. Aku makhlukMu yang bagaikan butiran pasir di pesisir pantai. Tetapkan aku menjadi muslim wal mu’min yang taat padaMu, tingkatkan keimananku, masukkanlah aku ke dalam halaqah ummul mu’minin. Allahumma Amiin