Sudah lama rasanya aku tidak merasakan menjadi diriku yang sebenarnya.
Sudah lama rasanya diri ini terpenjara dalam sesalan dan keluhan.
Aku benci diriku yang ini. Diriku yang dulu penuh dengan ambisi, raib sudah.
Aku kehilangan orang-orang yang membuatku seperti dulu, aku kehilangan jiwa yang membuatku lebih hidup. Diriku yang dulu akan selalu bangun, aku tidak menemukannya lagi.

Sudah lama rasanya aku tidak menghafalkan Al-Qur’an. Tadi malampun inginku melafalkan hafalanku di Ramadhan, tapi ternyata aku terbata-bata.

Sudah lama rasanya aku tidak menyenangkan diriku dengan bermusik.
Mungkin sudah lupa bagaimana caranya memetik alat musik itu. Sudah lama aku mengabaikannya, kini kulihat dia sudah berdebu. Aku ingin kembali berlatih gitar. Diriku yang dulu hafal semua kunci, kini jangan ditanya, aku tidak menghafalnya lagi.

Sudah lama rasanya aku tidak bertemu dengan sahabat-sahabatku tercinta, yang mengisi kekosongan semangatku. Diri ini benar-benar hampa tanpa silaturahim dari sahabat yang menguatkan.

Sudah lama rasanya aku menyingkirkan beberapa buku yang sudah kubeli beberapa bulan lalu. Pantas saja keilmuanku masih di titik ini saja.

Sudah lama rasanya aku tidak mempelajari bahasa-bahasa asing lain. Kamus dan buku percakapan bahasa asing telah terbeli, namun diri ini tidak pernah lagi membukanya.

Sudah lama rasanya aku kehilangan semangat juang berburu beasiswa ke luar negeri. Sekarang, yang aku buru bukanlah alamat dan situs perguruan tinggi di luaran sana. Yang ku buka sekarang adalah website teori dan lowongan pekerjaan.

Jika masih banyak kesudahlamaan yang menyebabkan diri ini menjadi tidak senang, maka ada satu hal kesudahlamaan yang membuatku bahagia.

Sudah lama aku tidak menyisihkan waktu akhir pekan untuk keluargaku, kini aku menemukannya. Bahagia di dekat mereka, kenyamanan dan kehangatan yang ditunjukkan mereka mampu mengobati semua kesudahlamaan yang aku rasakan tidak memberikan kesenangan pada diriku. Terima kasih Allah, mengirimkanku keluarga yang memberikanku semangat tiada henti, dan doa yang tiada henti. Aku mencintai mereka karenaMu. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku lagi dengan mereka, karena mereka begitu berharga untukku.