Banggakah dirimu saat dikatakan padamu sebagai seoran aktivis dakwah?

Bagiku, gelar atau titel seperti itu bukanlah sebuah kebanggaan. Melainkan suatu tanggung jawab dimana Allah telah memilih dan menitipkan bumi ini dan seisinya pada manusia terpilih untuk mengelolanya dengan baik, menjadi khalifah terbaik.

Aktivis dakwah jangan hanya bertengger pada masalah-masalah umat dimana dirinya berada sekarang. Bahkan terkadang lupa dengan orang terdekat yang selalu memberikannya ridho untuk berdakwah di luar. Keluarga. Demi amanah dan perubahan dunia yang masif terkdang mereka lupa untuk pulang kembali ke pelukan keluarga. Sejak kecil, di TPA kita seringkali disuapi hadits:

“Ridho Allah terletak pada ridho orang tua dan murka Allah terletak pada murka orang tua.” (HR At Tirmidzi)

Lupakah kita dengan hadits itu?

Jangan sampai terlupa kawan. Ingat siapa yang mengajari kita huruf hijaiyah sejak kecil, yang membantu kita mengaji, yang mengajari kita wudlu dan shalat, siapa yang membangunkan kita untuk makan sahur, yang membangunkan kita untuk melaksanakan shalat malam. Semua yang mengajarkan adalah orangtua kita, merekalah madrasah pertama kita. Mereka guru pertama kita.

Jangan pernah lupakan mereka. Birrul Walidain. Berbaktilah pada orangtuamu. Lihatlah diri kita yang sudah pandai mengaji, hafal beberapa juz Al Qur’an, hafal hadits, sedangkan orangtua kita ilmunya tidak pernah bertambah. Maka, apakah aktivis dakwah pantas disandangkan pada dirimu? Kau berhasil menyolehkan orang banyak, tapi kau gagal menyolehkan keluargamu. Na’udzubillahimindzalik.

Berbagi waktu untuk dakwah dan keluarga menjadi dilematis kebanyakan aktivis. Usahakan. Perbaiki kembali aktivitasmu. Orangtuamu menunggu janjimu untuk berkumpul dengan mereka meski hanya satu jam, tidak lebih. Namun, terkadang dengan segudang amanah kita lupa dengan janji itu. Betapa kecewanya mereka. Tidak salah jika memang harus mengutamakan amanah, namun luangkanlah waktu istirahatmu untuk memberikan senyuman di hadapan orangtuamu. Bukankah aktivitas kita akan semakin berkah.

Jangan pernah kecewakan kepercayaan yang sudah dibangun oleh orangtua kita. Mereka yang sudah renta menanti kehadiranmu pulang, mencium telapak tangan, mendoakannya, dan mengajarinya ilmu agama lebih untuk kehidupan di masa tua yang tenang.

Menjadi teladan memang baik untuk berdakwah pada orang banyak, namun akan lebih baik lagi jika kau menjadi teladan untuk keluargamu. Sehingga mereka bisa berkumpul di taman Firdaus kelak.

Jika membutuhkan cerita, aku akan menceritakan kisahku:

Weekend adalah waktu keluargaku berkumpul. Maklum, karena kami tinggal terpisah, jadi Sabtu-Ahad biasanya kami gunakan untuk berkumpul. Sayangnya, agenda dakwah seringkali menggunakan waktu ini untuk membicarakan berbagai qodhoya dakwah. Subhanallah. Sempat saya berdebat dengan keluarga mengenai masalah ini. Yang saya lakukan hanya memberikan keyakinan pada azzam yang sudah saya bulatkan di dalam hati. Ya, “dengan menunaikan amanah Allah ini, maka aku akan mendapat berkahNya, memang akan banyak rintangan, termasuk keluarga, namun inilah jalan yang kutempuh”. Aku selalu berpikiran seperti itu setiap kali aku harus berdebat dengan keluarga.

Dan saat ini saya menyadari bahwa amanah Allah itu bukan hanya suatu posisi jabatan dalam organisasi, tapi sebagai anak pula. Ternyata ladang pahala terbesar itu ada pula pada keluarga kita. Tanpa restu mereka, mungkin aku juga tidak mudah menjadi aktivis. Kini, aku menyeimbangkan aktivitasku. Dan Alhamdulillah, hasil semakin terlihat. Orangtuaku yang dulunya hampir tidak setuju dengan menutup aurat, kini semuanya berubah.

Ibuku menjadi ibu yang shalihah, tidak pernah melewatkan shalat sunnahnya sekalipun, shaum sunnahnya, mulai memanjangkan kerudungnya, membaca buku-buku islami, dan terkadang mengingatkanku akan perilaku ku yang tidak sesuai.

Ayahku menjadi ayah yang terbaik. Tidak pernah lagi meninggalkan shalat wajib meskipun dalam perjalanan jauh. Ketika kami bepergian jarak jauh, kami selalu berhenti di masjid ketika adzan berkumandang, seterpencil mesjidnya pun akan kami cari. Beliau juga selalu datang ke masjid untuk shalat berjamaah. Dan kini mulai banyak mempelajari ilmu agama. Bahkan cita-citanya setelah pensiun adalah ingin belajar di pesantren.

Inilah bentuk dakwah dan hasil dakwah yang tidak pernah rugi. Karena cita-cita terbesarku adalah memasuki taman firdaus bersama orang-orang yang kucintai, salah satunya adalah keluargaku tercinta.

Demikianlah, keluarga kami benar-benar menjadi keluarga yang menentramkan hati. Mungkin inilah yang disebut dengan Baiti Jannati..

“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka …” (QS. Asy-Syuraa: 15)