Day 1..

Goes to Bogor, 7.30 am.

Pagi kami berangkat ke Bogor menggunakan mobil dinas ayahku. Bulek ku masuk rumah sakit Hermina Bogor yang tepatnya ada di daerah Taman Yasmin. Yang tadinya kami akan berangkat menuju ke Jakarta, akhirnya kami putuskan untuk mampir ke rumah sakit dulu. Yah inilah perjuangan seorang wanita yang harus kehilangan anak dalam kandungan ketika masih berusia trimester awal. Keguguran itu menyakitkan, menyedihkan, dan mengecewakan. Qadarullah, Allah berkehendak lain akan nyawa makhlukNya. Operasi kuret pun telah usai, bulek ku masih berada di ruang isolasi operasi. Hanya beberapa saja yang boleh masuk, aku masuk dan melihatnya berada dalam kondisi lemah. Hemm.. Ibu.. Ibu.. Ibu.. Inilah jihad seorang ibu sesungguhnya dalam kehamilannya, ia mempertaruhkan dua nyawa, dan satu hal yang pasti ketaqwaan dan kepasrahan pada Illahi lah yang membawanya menjadi lebih mulia.

Hujan turun deras mengguyur kota Bogor. Kami yang tadinya akan melanjutkan perjalanan, sedikit terhambat. Akhirnya, ba’da ashar. Kami putuskan untuk pergi ke Jakarta tanpa Ibu. Sepanjang perjalanan, tidak hentinya kami diguyur nikmatNya Allah berupa air hujan. Sampai di daerah Rawasari, mendekati kosan kakakku, hujan mulai berhenti.

Bertiga, kami mencari tempat makan karena terlewat makan siang. Menemukan sebuah temapat makan di jalan percetakan negara, Mas Miskun. Kami menyantap makanan dengan nikmat.

Ayahku kemudian, mengantarkan kami tepat di depan kosan kakakku di Percetakan Negara. Menurunkan barang-barang sambil merencanakan apa yang akan dilakukan setelahnya. Istirahat sejenak, mandi, sholat maghrib dan bersiap menuju Atrium. Yup, pilihan antara Skyfall atau Breaking Down. Ternyata, Skyfall sudah penuh. Hanya tinggal Breaking Down pukul 21.15. What?! Baru kali ini aku masih ada di luar dan nonton jam segini.

Pulang dari Atrium jam 11.30. MasyaAllah.