Day 3. Percetakan Negara to Bekasi.

Sholat shubuh. Packing. Mandi. Sholat Dhuha. Berangkat.

Berniat untuk jalan-jalan keliling Jakarta sampai sore, karena sepupuku baru akan berangkat dari Bogor sekitar jam 3. Perjalanan kereta dan mobil pasti akan lebih cepat perjalanan menggunakan kereta, pikirku. Setelah di pagi hari ku buka tablet untuk mencari informasi arah shelter menuju arah Kuningan.
Planning hari ini: Salemba – Kuningan – Istiqlal – Stasiun Senen – Bekasi

Naik busway arah Kampung Melayu. Untuk transit ke arah BNN. Ternyata, aku salah turun, aku turun di RS.Jatinegara Premiere. Akhirnya kutunggu lagi busway arah Ancol dan turun segera di Kp.Melayu. Menunggu kedatangan bus berikutnya di shelter 9 arah BNN. Berdesakan. Penuh. Kutaruh tas di depanku. Kutaruh pula hp di saku bajuku yang panjangnya sampai lutut. Tadinya kupikir ini untuk mempermudah melihat jam dan mengangkat telpon kalau keluargaku menghubungiku. Di belakangku ada seorang bapak-bapak yang terlihat sangat sibuk, batuk, menutupi dengan koran, dan sesekali menyentuh bagian pahaku. “GAK SOPAN!!”. Akhirnya, aku coba geser ke depan. Dan tetap saja kulihat bapak-bapak itu sibuk dengan menggerak-gerakkan tangan dan menutupi batuknya dengan koran.

Bus datang. Aku masuk ke dalam. Transit di BNN. Kuperiksa hp di dalam sakuku. WHAAATTT???!!! RAIBBBBBB!!!! High level panic!! God! Allahu Akbar! Bingung! Bengong! Linglung! Gemetar!

Akhirnya aku lanjutkan perjalanan ke arah Tebet BKPM. Turun dan keluar dari shelter. Bingung. Harus menghubungi siapa? Jakarta? Taksi menuju kantor kakakku atau ayahku? BLANK!

Akhirnya kuputuskan untuk naik shelter balik ke arah sebelumnya dengan rute yang berbeda. Sudah diluar kendali. Yang penting aku sampai pada stasiun kereta. Tebet BKPM – Cawang – Kp. Melayu – Stasiun Jatinegara. Aku beli tiket langsung menuju Bekasi (commuter line). Sambil menunggu kereta satu jam lagi, aku memberanikan diri untuk meminjam hp seorang ibu di sebelahku setelah mencari-cari wartel. Aku meminta tolong padanya untuk mengirimkan sms pada kakakku. Lalu, ibu itu menawariku untuk menelepon saja. Kutelepon kakakku. Menunggu kedatangannya di stasiun. Dan menangis.

Sampai di stasiun Bekasi, lanjut dengan ojeg ke Perumahan Irigasi Lama. Budeku besok shubuh akan datang dari ibadah hajinya. Sampai di rumah sepupuku karena rumah budeku pastinya akan kosong. Sepupuku tidak ada dirumah. Ia menjemput anaknya di sekolah. Menunggu di rumah tetangga. Bermain dengan cucunya. Sempat hilang kesedihan. Sepupuku datang, istirahat sejenak, menceritakan kehilangan, dan tanpa kabar ibuku ternyata langsung ke Bekasi setelah dikabari kakakku tentang hp ku.

Aku ditanya oleh ibuku. Dan sepupu-sepupu lainnya yang kemudian berkumpul di rumah budeku.

Istirahat saja, mungkin bisa melenyapkan kesedihan.