Bumi berputar pada porosnya..

Begitupun saya berjalan pada koridornya..

Perbedaannya teramat besar, jika bumi patuh pada ketaatannya pada Sang Pencipta dengan mengelilingi orbitnya, sedangkan manusia seringkali berjalan pada orbit yang jauh dari apa yang diperintahkan.

Manusia seperti aku, manusia biasa, manusia yang berjalan menuruti garis takdirnya. Orbitku timbul tenggelam. Entahlah, mungkin karena aku pun hanya manusia biasa. Tapi itu adalah bentuk defensif ku sebagai manusia yang menolerir kesalahan.

Manusia, ya aku ini, tampak selalu samar melihat orbit, tampak selalu akan menyerah ketika orbitku tak muncul. Terkadang dalam hati, orbitku, aku ingin meihatmu, agar hidupku berada dalam arah yang pasti. Suatu kesalahan yang pasti. Harusnya aku menemukan sendiri orbitku, bukan menunggu hingga orbit itupun muncul tepat di hadapanku.

Waktu demi waktu, tenaga demi tenaga, pikiran demi pikiran, aku mencari, mencari, mencari, dan terus meyakinkan diri dalam munajatku. Orbitku akan terlihat.

Pencarian lamaku, berakhir sudah. Orbitku terlihat. Tuhan menunjukkan orbitku. Kesabaran dan keikhlasan dalam pencarian orbitku berakhir. Aku akhirnya tahu kemana harusnya aku berjalan, pada orbit Illahi, orbit yang menunjukkanku pada ketaqwaan padaNya. Orbit yang terus harus aku usahakan agar aku tetap berada dalam orbitku. Ikhtiar, beribadah, bermuamalah, dan tersenyum. Usaha itulah agar aku tetap pada orbit kebaikan. Orbit yang akan mengantarkanku pada akhir yang indah, khusnul khatimah. InsyaAllah.. Aamiin.